Langsung ke konten utama

Bait sehelai patera

            
             Bait sehelai patera




Anila bawaku dalam tarian senja
Hanyut bersama lantunan melodi
Jatuh ke tempat asing tak bertuan
Melirik luas disekujur haru


Hilang tak berbekas
Tersapu hujan yang deras
Terhempas
Arloji genggam yang menjadi saksi


Semakin kering juga rapuh
Aku terdiam, dalam haluan pamit
Dengan nada sendu 
Tanpa air mata dan mengikhlaskan semuanya. 


Indralaya,23 Maret 2020

Komentar

  1. Wah, dapat kosakata baru, patera ternyata artinya daun.
    Masih menerka-nerka maksud dari penulis di puisi ini.
    Ditunggu bait-bait selanjutnya!

    BalasHapus
  2. Turut menikmati puisi ini, terhanyut dalam alur untuk mengikhlaskan sesuatu.

    BalasHapus
  3. Semangat berkarya. Ditunggu karya berikutnya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kalam Al-Qura'an pecahkan misteri laut

Sejarah terbentuknya laut    Bumi dilahirkan 4,5 milyar tahun yang lalu. Menurut ceritanya, tata surya kita yang bernama Bima Sakti, terbentuk dari kumpulan debu di angkasa raya yang dalam proses selanjutnya tumbuh menjadi gumpalan bebatuan dari mulai yang berukuran kecil hingga ke ukuran asteroid sebesar ratusan kilometer. Bebatuan angkasa tersebut selanjutnya saling bertabrakan, dimana awalnya tabrakan yang terjadi masih lambat. Akibat adanya gaya gravitasi, bebatuan angkasa yang saling bertabrakan itu saling menyatu dan membentuk suatu massa batuan yang kemudian menjadi cikal bakal (embrio) bumi. Lama kelamaan dengan semakin banyaknya bebatuan yang menjadi satu tersebut, embrio bumi tumbuh semakin besar. Sejalan dengan semakin berkembangnya embrio bumi tersebut, semakin besar pula gaya tarik gravitasinya sehingga bebatuan angkasa yang ada mulai semakin cepat menabrak permukaan embrio bumi yang sudah tumbuh semakin besar itu. Akibat tumbukan2 yang sangat dahsyat tersebu...